Social Commerce: Pengertian dan Manfaatnya

Social Commerce

Pernahkah Anda mendengar istilah “social commerce”?

Mungkin saat Anda menelusuri beranda Instagram, Anda melihat sebuah baju yang menarik perhatian Anda. Instagram memungkinkan Anda untuk langsung memasukkan baju tersebut ke dalam keranjang belanja, sehingga Anda dapat menyelesaikan pembelian tanpa harus meninggalkan platform tersebut. Itulah gambaran singkat dari social commerce.

Sederhananya, social commerce memungkinkan bisnis untuk menghadirkan layanan eCommerce dalam platform-platform media sosialnya. Hal ini bisa memperluas cakupan audiens bisnis Anda dan mencapai lebih banyak pelanggan.

Namun, apa itu social commerce dan apa saja manfaat yang bisa dirasakan bisnis dengan menghadirkan strategi social commerce? Simak penjelasan lebih lanjut dalam artikel ini!

Pengertian Social Commerce

Social commerce adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk melakukan menemukan produk, transaksi online, melakukan pembelian, hingga memberikan ulasan produk, semuanya tanpa harus meninggalkan platform tersebut.

Konsep ini muncul seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumen untuk berbelanja secara online secara lebih intuitif dan terintegrasi dengan lingkungan sosial mereka. Sebagai hasilnya, banyak platform sosial media mulai mengembangkan fitur-fitur baru yang secara khusus dirancang untuk mendukung aktivitas perdagangan, seperti tombol “beli sekarang” atau menyematkan fitur keranjang belanja yang terintegrasi langsung dalam aplikasi.

Hal ini tidak hanya memudahkan konsumen untuk melakukan pembelian secara end-to-end, tetapi juga membuka peluang baru bagi bisnis untuk memperluas jangkauan pasar mereka dan meningkatkan interaksi dengan konsumen.

Tren social commerce tidak hanya menciptakan hubungan yang lebih erat antara dunia sosial dan e-commerce, tetapi juga mengubah pola perilaku konsumen, di mana pembelian produk tidak lagi hanya tentang transaksi komersial, tetapi juga menjadi bagian integral dari pengalaman sosial secara keseluruhan.

Perbedaan Social Commerce dan E-Commerce

Meskipun terdapat beberapa kemiripan antara keduanya, social commerce dan e-commerce memiliki beberapa perbedaan mendasar. Jangan sampai Anda salah mengartikan kedua konsep ini!

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, social commerce adalah bentuk e-commerce yang terjadi di platform media sosial, sehingga pengalaman berbelanja terjadi secara sepenuhnya dalam lingkungan media sosial. Beberapa contoh dari social commerce diantaranya adalah, Instagram shopping, TikTok shop, dan Facebook shop.

Sedangkan, e-commerce adalah platform dimana konsumen dapat melakukan pembelian produk dan layanan melalui situs web atau aplikasi yang didedikasikan secara khusus untuk pengalaman berbelanja, tanpa adanya keterlibatan media sosial. Misalnya, pembelian dapat dilakukan di platform e-commerce seperti Tokopedia dan Lazada, atau konsumen dapat langsung membeli dari situs web ritel sepert seperti Ace Hardware dan Informa.

Manfaat Social Commerce

1. Meningkatkan Interaktivitas

Social commerce memberikan peluang unik bagi bisnis untuk berinteraksi langsung dengan konsumen dan secara bersamaan meningkatkan konversi penjualan dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan iklan berbayar.

Melalui social commerce, interaksi dapat terjadi melalui kolom komentar, Q&A board, atau bahkan saat sesi live berlangsung. Hal ini memungkinkan konsumen untuk bertanya langsung tentang produk sebelum mereka melanjutkan proses pembelian. Kemudahan interaksi ini memberi konsumen kepercayaan yang lebih besar dalam mengambil keputusan pembelian.

Platform sosial media menyediakan ruang dialog antara konsumen yang tertarik dengan produk dan konsumen yang sudah melakukan pembelian. Interaksi ini bisa membantu bisnis untuk terhubung dengan konsumen pada tingkat emosional, mendorong tingkat loyalitas dan retensi yang lebih tinggi.

2. Memperluas Ekspansi Jangkauan

Dengan menggunakan platform media sosial yang populer di kalangan target pasar, khususnya di kalangan Generasi Z dan Milennial, bisnis dapat menjangkau audiens yang lebih luas secara organik dan secara tidak langsung bisa mendorong peningkatan penjualan.

Penelitian yang dilakukan oleh Snapchat dan Havas Media Network mengungkapkan dampak besar media sosial pada kebiasaan pembelian konsumen generasi berikutnya.

Dalam “The Next Gen Social Commerce Playbook”, dijelaskan bagaimana brand dapat terhubung secara lebih mendalam dengan Generasi Z (usia 13 – 23 tahun) dan Millennials (usia 24 – 34 tahun) dalam ruang social commerce. Menurut penelitian ini, 64% Generasi Z dan Milenial telah melakukan pembelian melalui media sosial dalam satu tahun terakhir.

Oleh karena itu, strategi social commerce ini menjadi sangat penting bagi bisnis yang ingin menjangkau Generasi Z dan Milenial.

3. Pengalaman Berbelanja yang Lebih Menyeluruh

Social commerce menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih menyeluruh dengan memanfaatkan berbagai fitur interaktif yang tersedia di platform media sosial.

Konsumen dapat berinteraksi langsung dengan merek, mengajukan pertanyaan atau memberikan umpan balik, yang memungkinkan mereka mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang produk atau layanan yang ditawarkan. Semuanya bisa dilakukan seperti sedang melakukan scrolling media sosial saja.

Selain itu, social commerce juga memungkinkan konsumen untuk melihat ulasan produk dari pengguna lain, memperoleh rekomendasi produk dari teman-teman mereka, dan bahkan berpartisipasi dalam diskusi komunitas tentang produk tertentu. Dengan fitur-fitur ini, konsumen dapat membuat keputusan pembelian yang lebih terinformasi dan merasa lebih percaya diri dengan pembelian mereka.

Terlebih, semua kemampuan untuk melakukan pembelian ini bisa langsung terjadi di platform media sosial tanpa harus berganti platform.

Contoh Social Commerce

Beberapa media sosial kini sudah menghadirkan layanan social commerce, seperti:

1. TikTok Shop

Aplikasi media sosial video dan live streaming ini memungkinkan terjadinya proses transaksi pada platformnya. Dengan menghadirkan kemudahan bagi penjual maupun pembeli, TikTok Shop telah berhasil merevolusi lanskap social commerce di Indonesia. Pasalnya, media sosial dengan lebih dari 1 miliar pengguna ini menghadirkan pengalaman baru dalam bertransaksi online di Indonesia.

Proses jual beli yang dihadirkan TikTok Shop bisa dibilang cukup mudah. Penjual bisa memasang katalog produk mereka langsung di akun TikTok Business dan membuat etalase mini untuk menarik perhatian pembeli. Di sisi lainnya, pembeli yang sudah memiliki a Tkun ikTok juga bisa langsung memilih barang yang ingin dibeli dan menyelesaikan proses transaksinya dalam aplikasi TikTok seperti di aplikasi e-commerce pada umumnya.

Salah satu kelebihan dari TikTok adalah fitur keranjang kuning. Fitur ini bisa disematkan pada video yang diunggah untuk mengarahkan konsumen ke produk di TikTok Shop.

2. Facebook Shop

Facebook Shops berfungsi sebagai toko online untuk Halaman Facebook Anda. Platform ini memungkinkan bisnis untuk mengunggah produk, tag produk tersebut dalam postingan, dan memulai transaksi langsung dari Facebook itu sendiri.

Selain berfungsi sebagai toko online, Facebook Shop memiliki fitur untuk membantu bisnis mempromosikan produk kepada pengikunyat. Misalnya, Anda dapat memberikan tag produk langsung dalam postingan atau Story Anda, untuk mengarahkan penggemar ke Facebook Shop Anda.

Dengan Shops, Anda juga bisa menjalankan penjualan dan memisahkan produk Anda ke dalam kategori yang berbeda.

3. Instagram Shop

Instagram Shop adalah serangkaian fitur yang memungkinkan orang untuk dengan mudah berbelanja di Instagram. Melalui Instagram Shop, pengguna dapat melihat katalog, harga, hingga pilihan atau variasi produk. Instagram Shop juga dapat menyediakan semua informasi relevan tentang barang dari katalog produk Anda, seperti harga dan deskripsi produk.

Menurut riset dari Hootsuite, 44% dari pengguna Instagram menggunakan aplikasi tersebut untuk berbelanja setiap minggunya. Baik itu benar-benar melakukan pembelian atau sekadar mengumpulkan informasi untuk pembelian di masa depan, orang menggunakan Instagram sebagai alat untuk riset dan belanja yang mudah.

4. WhatsApp

Meskipun bukan platform media sosial pada umumnya, tetapi WhatsApp juga bisa dikategorikan sebagai platform social commerce karena memiliki fitur “Stories” selayaknya media sosial lain.

WhatsApp juga mendukung bisnis untuk melakukan proses jual beli produk atau layanan pada platformnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Populix pada September 2022 menunjukkan media sosial platform yang paling banyak digunakan untuk berbelanja adalah TikTok Shop (46%), WhatsApp (21%), Facebook Shop (10%), Instagram Shop (10%).

Proses jual beli pada WhatsApp biasanya juga disebut sebagai WhatsApp Commerce. WhatsApp Commerce memungkinkan bisnis untuk mengotomatisasi sistem pesanan, meningkatkan percakapan dengan pelanggan, dan meningkatkan tingkat konversi. Pengguna dapat melihat katalog produk dan menghubungi bisnis melalui aplikasi ini, menyederhanakan proses pemesanan dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Implementasikan Strategi Social Commerce dengan Qiscus!

Jika Anda melakukan penjualan melalui WhatsApp, Anda bisa memaksimalkan aplikasi perpesanan ini sebagai saluran penjualan yang menguntungkan!

Melalui integrasi teknologi seperti chatbot dan asisten virtual ke platform WhatsApp Business API, bisnis bisa secara signifikan meningkatkan komunikasi keseluruhan dengan pelanggan di aplikasi dan memberikan pengalaman berbelanja, mulai dari saat mereka melihat katalog produk hingga ke proses pembayaran.

Dengan WhatsApp Business API dan Qiscus Shop, Anda bisa meningkatkan potensi konversi chat pelanggan jadi penjualan secara end-to-end. Berbagai fitur yang dihadirkan Qiscus Shop memungkinkan Anda untuk memasang WhatsApp catalog, melakukan order management, hingga melakukan pembayaran hanya melalui WhatsApp.

Jika Anda tertarik untuk mengimplementasikan strategi social commerce pada WhatsApp, hubungi tim kami dan dapatkan demo produknya sekarang!

You May Also Like
Telemarketing adalah
Selengkapnya

5 Strategi Sukses Telemarketing Terkini

Telemarketing adalah  strategi marketing dengan menawarkan produk atau jasa kepada pelanggannya melalui telepon. Telemarketing hingga saat ini masih…