WhatsApp Commerce untuk F&B: Bagaimana Spikoe Resep Kuno Menjadikan Qiscus Shop Sebagai Kanal Penjualan Top 3

Apa yang Akan Kamu Pelajari

  • ✅ Bagaimana Spikoe Resep Kuno menjadikan WhatsApp Commerce sebagai channel di balik sekitar 90% penjualan online-nya
  • ✅ Bagaimana Spikoe Resep Kuno menaikkan order bulanan dari sekitar 200 ke sekitar 600, kurang lebih 3x, setelah meluncurkan Qiscus Shop
  • ✅ Bagaimana Qiscus memangkas waktu respons musim ramai sekitar 80%, dari yang sebelumnya bisa sampai 6–7 jam
  • ✅ Bagaimana order 24 jam mengubah permintaan di luar jam kerja jadi order yang tertangkap, lalu menjadikan Qiscus Shop salah satu top 3 kanal penjualan online dalam hitungan bulan
  • ✅ Bagaimana Spikoe Resep Kuno menyediakan pilihan order self-service melalui WhatsApp tanpa mengganggu basis pelanggan senior yang loyal

Mengenal Spikoe Resep Kuno

Spikoe Resep Kuno adalah bisnis kue dan pastry dengan satu toko di Surabaya dan pelanggan yang sudah memesan bertahun-tahun. Mereka WhatsApp-first sejak awal, bukan karena mengikuti tren. Mereka mulai seperti banyak toko lokal lain, menerima order lewat telepon satu per satu, lalu memindahkan percakapan ke WhatsApp saat menjawab setiap order lewat telepon tidak lagi memungkinkan.

Pelanggannya beragam: pelanggan setia yang kembali untuk memesan ulang, sekaligus pembeli baru yang masih menjelajah mau beli apa. Bagi Spikoe Resep Kuno, WhatsApp bukan eksperimen marketing. Itu etalase mereka, dan hampir 90% penjualan online mengalir lewat sana.

Tantangan yang Dihadapi Spikoe Resep Kuno

Untuk waktu yang lama, WhatsApp berjalan karena ditopang oleh tenaga manusia. Namun bisnis yang bergantung pada satu lini yang selalu sibuk, cepat atau lambat akan menemui batas yang mudah diabaikan, sampai biayanya mulai terasa nyata.

Batas Kapasitas di WhatsApp Business

WhatsApp Business membatasi Spikoe Resep Kuno hanya sampai lima perangkat yang terhubung, sehingga agent harus bergantian antara membalas chat dan menerima telepon.

Musim Ramai Membuat Tim Kewalahan

Setiap musim besar, dari Imlek hingga Idul Fitri, chat masuk melonjak hingga ribuan per hari. Agent membalas dari bawah ke atas, mengulang thread lama sementara yang baru terus menumpuk. Lead time respons membengkak menjadi 4 sampai 5 jam, bahkan bisa mencapai 6–7 jam di puncak terberat, meski tim sudah ditambah hingga 20 agent.

Fulfillment yang Manual dan Terpisah-pisah

Pembayaran sebagian besar masih berupa transfer manual, dan bukti pengiriman harus disalin tangan setiap ada permintaan, menambah beban baik di tim layanan maupun accounting.

Toko yang Tutup di Malam Hari

Karena order bergantung pada staf yang sedang online, apa pun yang masuk larut malam harus menunggu hingga pagi. Permintaan ada sepanjang waktu, kapasitas untuk menjawabnya yang tidak.

Peluang Segmen Muda yang Belum Terjangkau

Pelanggan senior yang setia terlayani baik lewat chat manusia, tapi pembeli muda yang terbiasa e-commerce ingin memesan dalam hitungan detik, sendiri, kapan saja. Jalur self-serve itu belum ada.

Apa yang Ingin Dicapai Spikoe Resep Kuno

Titik balik ini datang dari anggota keluarga pemilik yang lebih memahami teknologi, yang tidak ingin menerima bahwa pertumbuhan harus selalu berarti tim yang semakin besar. Dari sana lahir serangkaian tujuan yang berfokus pada channel ini.

1. Menjadikan Order WhatsApp Benar-Benar Mudah

Bangun pengalaman order di dalam WhatsApp yang bahkan pelanggan kurang melek teknologi pun akan lebih memilihnya, sehingga membeli terasa lebih cepat daripada menelepon.

2. Hadirkan Kanal Pemesanan Mandiri 24 Jam

Menghadirkan platform pemesanan mandiri yang berjalan 24 jam di dalam WhatsApp, sehingga permintaan di luar jam kerja langsung menjadi order begitu masuk, bukan menunggu shift berikutnya.

3. Meringankan Beban Chat di Musim Ramai

Mengambil sebagian volume order musiman dari antrean chat manual, yang waktu responsnya bisa mencapai 6–7 jam.

4. Membebaskan Agent untuk Percakapan yang Membutuhkan Sentuhan Manusia

Melepaskan order rutin dari tangan tim, agar agent dapat fokus pada kasus yang memang membutuhkan perhatian personal.

Solusi yang Diterapkan

Bersama Qiscus, Spikoe Resep Kuno membangun ulang perjalanan order dari dalam WhatsApp ke luar, otomasi menanggung jalur rutin, sementara manusia disiapkan untuk momen yang benar-benar membutuhkannya.

WhatsApp Commerce: Order Terpandu di Dalam Chat

Qiscus WhatsApp Commerce menyatukan Qiscus Shop, WhatsApp Catalog, dan WhatsApp Flows dalam satu alur terpandu. Alih-alih mengetik kode pada menu, pelanggan cukup menelusuri katalog, mengisi formulir singkat, dan membayar melalui gateway bawaan, semua tanpa keluar dari chat.

Terhubung Sampai ke Fulfillment

WhatsApp Commerce terhubung ke Smart System internal Spikoe Resep Kuno, membawa order sampai ke produksi dan keuangan, serta ke kurir pengiriman termasuk Paxel. Order tidak berhenti di chat. Ia mengalir ke operasional.

Otomasi Dulu, Manusia untuk Kasus Sulit

Lewat Qiscus Omnichannel Chat dan Helpdesk, percakapan hanya berpindah ke manusia saat memang perlu: ketika pelanggan berputar di flow, order belum dibayar, atau pelanggan minta bicara dengan seseorang. Supervisor bisa melihat di mana pembeli berhenti dan turun tangan, dan pelanggan setia selalu satu ketukan dari agent.

Toko yang Tidak Pernah Tutup

Karena flow berjalan sendiri, toko tidak lagi tutup saat tim logout. Pelanggan bisa memesan kapan saja dan tinggal memilih kapan mau dikirim.

Pelengkap, Bukan Pengganti

Qiscus Shop dirancang untuk berada di samping chat manual dan telepon, bukan menggantikannya. Pelanggan yang lebih suka manusia tetap dapat manusia, sementara self-serve membawa pembeli yang ingin cepat.

Bagaimana Spikoe Resep Kuno Memanfaatkan Solusi di Sepanjang Perjalanan Pelanggan

Pelanggan membuka WhatsApp, menelusuri katalog dan mengisi formulir singkat, membayar, lalu selesai, terpandu di setiap langkah. Bagi banyak pembeli yang sudah nyaman dengan alur ini, seluruh order selesai tanpa satu pun pesan ke agent.

Tanda paling jelas justru muncul sejak awal. Qiscus Shop diluncurkan pada awal 2026 tanpa promosi apa pun, namun pada bulan Februari sudah menampung sekitar 200 order berbayar, dengan puncak harian mendekati 30. Sebulan kemudian, pada July, angka tersebut lebih dari tiga kali lipat menjadi sekitar 500. Adopsi ini muncul dari pengalaman itu sendiri, bukan dari kampanye promosi. Sementara itu, order rutin yang teralihkan ke self-serve meringankan antrean chat manual, sehingga pada musim ramai, respons yang sebelumnya membutuhkan 6–7 jam kini jauh lebih cepat.

Saat ada yang membutuhkan sentuhan manusia, proses serah terimanya tetap rapi. Pelanggan yang tersendat, berhenti di tahap pembayaran, atau memang lebih memilih berbicara langsung, diarahkan ke agent, sementara supervisor memantau titik-titik drop-off dan menindaklanjuti percakapan yang mandek. Setelah order dikonfirmasi, tidak ada yang perlu diinput ulang secara manual, melalui integrasi Smart System, order langsung mengalir ke produksi, keuangan, dan kurir pengiriman, sehingga pekerjaan yang dulu menumpuk di agent kini bergerak secara otomatis.

SebelumSesudah
Order WhatsAppChat manual dengan agentWhatsApp Flows terpandu, berbasis tombol
Jam orderHanya jam kerja24 jam, self-serve
Respons musim ramaiMenunggu hingga 6–7 jamSekitar 80% lebih cepat
Beban agentSetiap order lewat manusiaOtomasi menangani order rutin, manusia untuk pengecualian
FulfillmentSerah terima manualTerhubung ke Smart System dan kurir

Dampak Terukur dari Penggunaan Qiscus

1. WhatsApp Menjadi Kanal Penjualan Top 3 dalam 3 Bulan

Sejak diluncurkan pada Februari 2026, WhatsApp Commerce melesat menjadi kanal penjualan terbesar ketiga Spikoe Resep Kuno, di bawah telepon dan chat manual, namun di atas website dan Shopee.

2. Respons Musim Ramai Terpangkas ~80%

Di musim tersibuk, balasan yang dulu bisa memakan 6 sampai 7 jam kini jauh lebih cepat, turun sekitar 80%. Selain karena batas lima device dihapus, agent Spikoe Resep Kuno terbantu fitur Quick Replies dari Qiscus, mengirim jawaban yang konsisten untuk pertanyaan umum hanya dalam sekali ketuk, sehingga tiap agent menangani lebih banyak percakapan tanpa mengorbankan kualitas.

3. Order 24 Jam, Tanpa Antrean Semalaman

Lini yang dulu sepi setelah jam kerja kini menerima order kapan saja. Lewat Qiscus Shop, permintaan larut malam yang dulu menunggu pagi, bahkan kadang hilang begitu saja, kini langsung tertangkap saat itu juga.

4. Sekitar 200 ke 600 Order Berbayar per Bulan

Dari sekitar 200 order berbayar per bulan pada Februari (dengan puncak harian mendekati 30), Qiscus Shop kurang lebih tiga kali lipat menjadi sekitar 600 per bulan pada Juli, semuanya tanpa promosi.

5. Adopsi Sejak Hari Pertama Tanpa Promosi

Sistem ini mencatat penjualan pertamanya pada hari peluncuran, tanpa promosi apa pun, dan terus mengonversi pembeli digital pemula yang berhati-hati sejak saat itu. Adopsi ini muncul dari pengalamannya sendiri, bukan dari dorongan marketing.

6. 90% Penjualan Online Lewat WhatsApp

WhatsApp kini menjadi channel di balik sekitar 90% penjualan online Spikoe Resep Kuno, menjadikannya etalase online utama brand. Selain itu, channel krusial ini tidak lagi butuh agent di balik setiap transaksi untuk tetap berjalan.

Kata Spikoe Resep Kuno

“Selama bertahun-tahun, pelanggan kami memesan lewat WhatsApp, dan banyak dari mereka bukan tipe yang mudah beradaptasi dengan aplikasi baru. Yang berubah sekarang, setiap pelanggan bisa menyelesaikan pesanannya sendiri, kapan saja, tanpa menunggu kami. Ini juga membuka peluang menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk pembeli muda yang terbiasa e-commerce, yang sebelumnya sulit kami jangkau lewat chat manual.

Sejak meluncurkan Qiscus Shop, order bulanan kami naik dari sekitar 200 menjadi 600 per bulan. Dengan Qiscus Omnichannel, kami berhasil memangkas waktu respons hingga 80%. Saya jelas merekomendasikan Qiscus untuk pemilik bisnis di Indonesia, terutama yang menerima order lewat WhatsApp.”

Mathias Santoso, Assistant Director of Operations, Spikoe Resep Kuno

WhatsApp Sudah Jadi Etalase Anda. Sudahkah Ia Berfungsi Seperti Seharusnya?

Kisah Spikoe Resep Kuno bermuara pada satu kebenaran sederhana: kalau WhatsApp adalah tempat pelanggan Anda sudah membeli, investasi paling cerdas bukan menambah channel, tapi pengalaman yang lebih baik di channel yang sudah bekerja. Order terpandu, ketersediaan sepanjang waktu, dan otomasi yang tahu kapan harus melibatkan manusia bisa mengangkat pengalaman pelanggan dan ekonomi channel sekaligus.

Jika bisnis Anda berjalan di WhatsApp dan tim Anda kewalahan oleh order rutin, pendekatan ini bisa diterapkan. Hubungi tim kami di qiscus.com untuk membangun success story Anda.

You May Also Like